Hari ini, akhirnya saya kembali menulis disini..
Tanpa berniat sombong, apalagi dengki..
Semoga Allah mengampuni saya, apabila pernah saya merasa sok cantik
Apalagi sok kaya..
Terlepas dari siapa dan apa maksudnya…
Insya Allah dan Alhamdulillah, saya tidak pernah merasa sok cantik. Apalagi sok kaya…
Kecantikan itu hanya milik Allah. Kekayaan itu pun dari Allah..
Di dunia ini, berjuta wanita di luar sana jauh lebih cantik dari saya..
Berjuta orang, jauh lebih kaya dari saya
Berjuta orang, jauh lebih mulia dari saya
Berjuta orang, jauh lebih bertaqwa dari pada saya..
Meskipun saya tidak secantik Tamara Blezinsky, tapi saya sudah cukup bersyukur..
Dari ujung rambut hingga ujung kaki, saya adalah karya Tuhan
Dia dapat menambahkan kecantikan itu
Atau mengambilnya kembali kapanpun Dia mau
Jadi, untuk apa saya merasa sok cantik ?
Meskipun saya tidak kaya raya, tetapi saya memiliki pekerjaan yang baik
Memiliki suami, anak, orang tua, adik dan keluarga yang sangat mencintai saya
Saya mencintai mereka, meski diantara kekurangan saya
Harta, keluarga, rezeki dan karunia, semua itu milik Allah
Jadi, untuk apa saya merasa sok kaya?
Setiap manusia tentu memiliki kebutuhan, keinginan, cita-cita dan impian.
Setiap manusia tentu ingin menjadi lebih baik dan lebih baik dalam hidupnya..
Setiap manusia belajar dari pengalaman, kesalahan atau kegagalan yang dialaminya
Dan hanya manusia munafik yang gampang menilai keburukan orang lain, tanpa bercermin pada dirinya sendiri..
Dan semoga Allah, mengampuni saya atas segala kesalahan yang pernah saya perbuat, dengan sengaja atau tidak.
Sesungguhnya, hanya Allah yang Maha Tahu Isi Hati Manusia.
Jumat, 27 November 2009
Sabtu, 15 Agustus 2009
Indah
Apa yang paling indah di dunia ini??
Bunga, Cinta & Persahabatan..
Lihatlah bunga..
Ketika masih menguncup sekalipun, keindahan nya sudah memberi makna..
Ketika jatuh cinta, dunia pun terasa penuh warna..
Ketika menemukan sahabat sejati, dunia tak kan pernah terasa sepi..
Indahnya jika dunia dipenuhi cinta..
Indahnya jika kita selalu ada untuk sahabat..
Bahagianya jika sahabat selalu ada untuk kita..
Bunga, Cinta & Persahabatan..
Lihatlah bunga..
Ketika masih menguncup sekalipun, keindahan nya sudah memberi makna..
Ketika jatuh cinta, dunia pun terasa penuh warna..
Ketika menemukan sahabat sejati, dunia tak kan pernah terasa sepi..
Indahnya jika dunia dipenuhi cinta..
Indahnya jika kita selalu ada untuk sahabat..
Bahagianya jika sahabat selalu ada untuk kita..
Senin, 15 Juni 2009
Ketika tangan kita mulai terasa berat untuk memberi pertolongan, apa yang ada dalam pikiran kita?
Sudah sebegitu beratkah beban kita, hingga untuk membantu seseorang pun sudah tak sanggup lagi?
Tak semua orang membutuhkan pertolongan dengan meminta uang atau harta benda.
Bagaimana kalau seseorang membutuhkan kita hanya untuk mengambilkan sesuatu yang hanya sejengkal jari?
Tidakkah kita bisa menolongnya, padahal tak sebutir keringat pun menetes hanya dengan memenuhi permohonannya?
Sudah sebegitu beratkah beban kita, hingga untuk membantu seseorang pun sudah tak sanggup lagi?
Tak semua orang membutuhkan pertolongan dengan meminta uang atau harta benda.
Bagaimana kalau seseorang membutuhkan kita hanya untuk mengambilkan sesuatu yang hanya sejengkal jari?
Tidakkah kita bisa menolongnya, padahal tak sebutir keringat pun menetes hanya dengan memenuhi permohonannya?
Rabu, 20 Mei 2009
Nonton Nggak Nonton...
Apa sih yang ada di pikiran para Produser kita?
Mengapa sekarang tayangan televisi penuh dengan ajang caci maki, dendam,
kebencian, kedengkian, kelicikan, dan sebagainya ?
Bahkan serial Korea 'Full House' sekalipun tidak akan ditemukan kalimat-
kalimat penuh kelicikan.
Ditambah acara reality show yang mempertontonkan aib, ditingkahi dengan
ajang adu jotos dan cakar-cakaran.
Terlepas dari kebenaran kisah atau tidak, apakah hanya rekayasa saja
atau tidak, apakah selera masyarakat kita hanya seperti itu?
Bukankah tayangan sepeti Oprah Winfrey, Kick Andi, Golden Ways, Bedah Rumah,
atau Minta Tolong mungkin masih jauh memberi Hikmah dan Pelajaran yang dapat
dipetik ?
Bagaimana Bangsa kita bisa maju jika tayangan televisi hanya seperti ini??
Mengapa sekarang tayangan televisi penuh dengan ajang caci maki, dendam,
kebencian, kedengkian, kelicikan, dan sebagainya ?
Bahkan serial Korea 'Full House' sekalipun tidak akan ditemukan kalimat-
kalimat penuh kelicikan.
Ditambah acara reality show yang mempertontonkan aib, ditingkahi dengan
ajang adu jotos dan cakar-cakaran.
Terlepas dari kebenaran kisah atau tidak, apakah hanya rekayasa saja
atau tidak, apakah selera masyarakat kita hanya seperti itu?
Bukankah tayangan sepeti Oprah Winfrey, Kick Andi, Golden Ways, Bedah Rumah,
atau Minta Tolong mungkin masih jauh memberi Hikmah dan Pelajaran yang dapat
dipetik ?
Bagaimana Bangsa kita bisa maju jika tayangan televisi hanya seperti ini??
Selasa, 12 Mei 2009
Tertawalah sebelum kamu ditertawakan... Lho??
‘Tertawalah kamu sebelum kamu ditertawakan…’ Benar nggak sih pepatah itu?
‘Tertawa itu menyehatkan.’ Nah ini baru benar.
Tapi kalau ditertawakan? Siapa yang mau? Kecuali pelawak.
Kalau mentertawakan? Semua orang pasti suka ini. Apalagi kalau ujung-ujungnya mencela orang.
Hari ini, saya mengalami hal lucu – tapi bagi saya sama sekali tidak lucu.
Ceritanya begini…
Ketika saya sedang menunggu di depan lobby mal kebanggaan di kota saya – yang notabene dinding maupun pintunya semua terbuat dari kaca tembus pandang yang sangat bening, tiba-tiba tampak seorang pemuda bergegas dan terburu-buru melintas di dekat saya. Karena dia sibuk berkomunikasi lewat ponsel membuatnya tidak awas dengan lingkungan di sekitarnya.
Walhasil, dia menabrak dinding kaca dan menimbulkan suara berdebum!
Kontan orang-orang disekitar terbahak-bahak mentertawakan sang pemuda yang pura-pura tidak acuh dan menghilang keluar entah kemana.
Pada saat itu, saya sama sekali tidak melihat hal itu sebagai peristiwa yang lucu. Sumpah, justeru saya sangat-sangat merasa sakit dan malu seolah saya yang baru saja mengalami peristiwa itu.
Bagaimana rasanya, kalau saja mereka yang mentertawakan itu akan mengalami hal serupa? Bukankah sangat tidak nyaman ketika diri kita ditertawakan, dicela dan dilecehkan?
Bukankah akan lebih indah jika hidup kita diwarnai dengan memberi pujian tulus, pertolongan atau kebaikan kepada orang lain, sehingga membuat orang lain berbahagia?
Saya tidak bermaksud sok mulia atau sok baik. Karena saya ‘merasa’ apa yang mereka ‘rasa’. Saya belajar untuk sebaik-baiknya memperlakukan orang lain, karena saya berharap agar orang lain juga belajar untuk sebaik-baiknya memperlakukan sesamanya atau makhluk lainnya.
So, tertawalah pada tempatnya…
Karena tertawa itu sangat menyehatkan…
‘Tertawa itu menyehatkan.’ Nah ini baru benar.
Tapi kalau ditertawakan? Siapa yang mau? Kecuali pelawak.
Kalau mentertawakan? Semua orang pasti suka ini. Apalagi kalau ujung-ujungnya mencela orang.
Hari ini, saya mengalami hal lucu – tapi bagi saya sama sekali tidak lucu.
Ceritanya begini…
Ketika saya sedang menunggu di depan lobby mal kebanggaan di kota saya – yang notabene dinding maupun pintunya semua terbuat dari kaca tembus pandang yang sangat bening, tiba-tiba tampak seorang pemuda bergegas dan terburu-buru melintas di dekat saya. Karena dia sibuk berkomunikasi lewat ponsel membuatnya tidak awas dengan lingkungan di sekitarnya.
Walhasil, dia menabrak dinding kaca dan menimbulkan suara berdebum!
Kontan orang-orang disekitar terbahak-bahak mentertawakan sang pemuda yang pura-pura tidak acuh dan menghilang keluar entah kemana.
Pada saat itu, saya sama sekali tidak melihat hal itu sebagai peristiwa yang lucu. Sumpah, justeru saya sangat-sangat merasa sakit dan malu seolah saya yang baru saja mengalami peristiwa itu.
Bagaimana rasanya, kalau saja mereka yang mentertawakan itu akan mengalami hal serupa? Bukankah sangat tidak nyaman ketika diri kita ditertawakan, dicela dan dilecehkan?
Bukankah akan lebih indah jika hidup kita diwarnai dengan memberi pujian tulus, pertolongan atau kebaikan kepada orang lain, sehingga membuat orang lain berbahagia?
Saya tidak bermaksud sok mulia atau sok baik. Karena saya ‘merasa’ apa yang mereka ‘rasa’. Saya belajar untuk sebaik-baiknya memperlakukan orang lain, karena saya berharap agar orang lain juga belajar untuk sebaik-baiknya memperlakukan sesamanya atau makhluk lainnya.
So, tertawalah pada tempatnya…
Karena tertawa itu sangat menyehatkan…
Ayo Bercanda...
Seringkali, ketika tanpa kita sadari, kita telah menyakiti hati orang lain. Sederhananya, bahkan hanya lewat sebuah canda.
Ketika kita sudah menjadi sangat akrab dengan teman, seringkali kita melewati ‘batas’ yang seharusnya kita jaga.
Banyak yang mungkin sama sekali tidak mempermasalahkan itu, karena masing-masing sudah tahu betul bahwa semua itu hanya sebatas di bibir saja.
Namun banyak juga yang tanpa diduga justeru menelan canda itu bulat-bulat hingga menelusup ke relung hatinya, hingga ia terluka. Nah, ini yang susah.
Cerita ini bukan semata-mata curahan hati saya, tapi seorang teman yang baru saja berbagi rasa pada saya.
BENAR BANGET apa yang dia pikirkan itu.
Karena kita kan tidak bisa menebak-nebak isi hati atau suasana hati orang lain.
Bisa saja, ketika kita bercanda sedikit keterlaluan kemarin, si teman sama sekali tidak menggubrisnya. Bahkan mungkin, si teman yang tertawa paling keras.
Ehh ketika hari ini kita hanya mencela bentuk alisnya, warna lipstiknya atau model pakaiannya, si teman malah cemberut seharian dan tak mau bicara. Nah lho??
Tapi, semoga kita masing-masing bisa belajar dari peristiwa seperti ini.
Pertama, yah mungkin kita cukup bercanda ala kadarnya…
Kedua, sebagai teman mbok yah jangan terlalu sensi…
Anggap saja semua itu benar-benar hanya bercanda.
Yah kalau seandainya tak mampu dibendung, terlanjur tersinggung, ya sudahhh besok dilupakan saja…
Ketika kita sudah menjadi sangat akrab dengan teman, seringkali kita melewati ‘batas’ yang seharusnya kita jaga.
Banyak yang mungkin sama sekali tidak mempermasalahkan itu, karena masing-masing sudah tahu betul bahwa semua itu hanya sebatas di bibir saja.
Namun banyak juga yang tanpa diduga justeru menelan canda itu bulat-bulat hingga menelusup ke relung hatinya, hingga ia terluka. Nah, ini yang susah.
Cerita ini bukan semata-mata curahan hati saya, tapi seorang teman yang baru saja berbagi rasa pada saya.
BENAR BANGET apa yang dia pikirkan itu.
Karena kita kan tidak bisa menebak-nebak isi hati atau suasana hati orang lain.
Bisa saja, ketika kita bercanda sedikit keterlaluan kemarin, si teman sama sekali tidak menggubrisnya. Bahkan mungkin, si teman yang tertawa paling keras.
Ehh ketika hari ini kita hanya mencela bentuk alisnya, warna lipstiknya atau model pakaiannya, si teman malah cemberut seharian dan tak mau bicara. Nah lho??
Tapi, semoga kita masing-masing bisa belajar dari peristiwa seperti ini.
Pertama, yah mungkin kita cukup bercanda ala kadarnya…
Kedua, sebagai teman mbok yah jangan terlalu sensi…
Anggap saja semua itu benar-benar hanya bercanda.
Yah kalau seandainya tak mampu dibendung, terlanjur tersinggung, ya sudahhh besok dilupakan saja…
Minggu, 10 Mei 2009
Pilihan...
Setiap manusia ditakdirkan untuk memilih
Apakah ingin menjadi seseorang yang baik atau buruk.
Dunia ini penuh dengan pilihan
Ada hitam dan putih, benar dan salah, ya atau tidak...
Ketika pilihan diliputi ragu, alam seakan berwarna abu-abu
Bibir berkata 'ya', namun hati menjerit 'tidak'.
Ketika harus memilih,
Apakah hidup biasa saja, namun dengan seseorang yang dicinta
Atau hidup berlimpah harta, namun tak sungguh-sungguh mencinta
Pilihan yang rumit...
Bagi sebagian orang, cinta di atas segalanya.
Meskipun harus berusaha, saling mendukung, senantiasa memberi,
tak harus meminta, pasti rejeki tak akan kemana.
Namun sebagian lagi berpikir berbeda.
Untuk apa bersusah payah kalau toh ada 'seseorang' yang siap
menanggung semuanya.
Tapi saya yakin, mereka juga sama-sama 'berusaha' kok untuk
mewujudkan keinginannya, meskipun dengan cara yang berbeda.
Tapi yah...
Semua itu terserah mereka
Karena toh, Tuhan telah memberi kita bekal, yaitu A K A L .
Semoga mereka menemukan kebahagiannya
Dan kita juga senantiasa dilimpahi berkah dan hidayah dari-Nya.
Apakah ingin menjadi seseorang yang baik atau buruk.
Dunia ini penuh dengan pilihan
Ada hitam dan putih, benar dan salah, ya atau tidak...
Ketika pilihan diliputi ragu, alam seakan berwarna abu-abu
Bibir berkata 'ya', namun hati menjerit 'tidak'.
Ketika harus memilih,
Apakah hidup biasa saja, namun dengan seseorang yang dicinta
Atau hidup berlimpah harta, namun tak sungguh-sungguh mencinta
Pilihan yang rumit...
Bagi sebagian orang, cinta di atas segalanya.
Meskipun harus berusaha, saling mendukung, senantiasa memberi,
tak harus meminta, pasti rejeki tak akan kemana.
Namun sebagian lagi berpikir berbeda.
Untuk apa bersusah payah kalau toh ada 'seseorang' yang siap
menanggung semuanya.
Tapi saya yakin, mereka juga sama-sama 'berusaha' kok untuk
mewujudkan keinginannya, meskipun dengan cara yang berbeda.
Tapi yah...
Semua itu terserah mereka
Karena toh, Tuhan telah memberi kita bekal, yaitu A K A L .
Semoga mereka menemukan kebahagiannya
Dan kita juga senantiasa dilimpahi berkah dan hidayah dari-Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)

