Selasa, 12 Mei 2009

Tertawalah sebelum kamu ditertawakan... Lho??

‘Tertawalah kamu sebelum kamu ditertawakan…’ Benar nggak sih pepatah itu?

‘Tertawa itu menyehatkan.’ Nah ini baru benar.

Tapi kalau ditertawakan? Siapa yang mau? Kecuali pelawak.

Kalau mentertawakan? Semua orang pasti suka ini. Apalagi kalau ujung-ujungnya mencela orang.

Hari ini, saya mengalami hal lucu – tapi bagi saya sama sekali tidak lucu.

Ceritanya begini…

Ketika saya sedang menunggu di depan lobby mal kebanggaan di kota saya – yang notabene dinding maupun pintunya semua terbuat dari kaca tembus pandang yang sangat bening, tiba-tiba tampak seorang pemuda bergegas dan terburu-buru melintas di dekat saya. Karena dia sibuk berkomunikasi lewat ponsel membuatnya tidak awas dengan lingkungan di sekitarnya.
Walhasil, dia menabrak dinding kaca dan menimbulkan suara berdebum!
Kontan orang-orang disekitar terbahak-bahak mentertawakan sang pemuda yang pura-pura tidak acuh dan menghilang keluar entah kemana.

Pada saat itu, saya sama sekali tidak melihat hal itu sebagai peristiwa yang lucu. Sumpah, justeru saya sangat-sangat merasa sakit dan malu seolah saya yang baru saja mengalami peristiwa itu.

Bagaimana rasanya, kalau saja mereka yang mentertawakan itu akan mengalami hal serupa? Bukankah sangat tidak nyaman ketika diri kita ditertawakan, dicela dan dilecehkan?

Bukankah akan lebih indah jika hidup kita diwarnai dengan memberi pujian tulus, pertolongan atau kebaikan kepada orang lain, sehingga membuat orang lain berbahagia?

Saya tidak bermaksud sok mulia atau sok baik. Karena saya ‘merasa’ apa yang mereka ‘rasa’. Saya belajar untuk sebaik-baiknya memperlakukan orang lain, karena saya berharap agar orang lain juga belajar untuk sebaik-baiknya memperlakukan sesamanya atau makhluk lainnya.

So, tertawalah pada tempatnya…
Karena tertawa itu sangat menyehatkan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar