Apa sih yang ada di pikiran para Produser kita?
Mengapa sekarang tayangan televisi penuh dengan ajang caci maki, dendam,
kebencian, kedengkian, kelicikan, dan sebagainya ?
Bahkan serial Korea 'Full House' sekalipun tidak akan ditemukan kalimat-
kalimat penuh kelicikan.
Ditambah acara reality show yang mempertontonkan aib, ditingkahi dengan
ajang adu jotos dan cakar-cakaran.
Terlepas dari kebenaran kisah atau tidak, apakah hanya rekayasa saja
atau tidak, apakah selera masyarakat kita hanya seperti itu?
Bukankah tayangan sepeti Oprah Winfrey, Kick Andi, Golden Ways, Bedah Rumah,
atau Minta Tolong mungkin masih jauh memberi Hikmah dan Pelajaran yang dapat
dipetik ?
Bagaimana Bangsa kita bisa maju jika tayangan televisi hanya seperti ini??
Rabu, 20 Mei 2009
Selasa, 12 Mei 2009
Tertawalah sebelum kamu ditertawakan... Lho??
‘Tertawalah kamu sebelum kamu ditertawakan…’ Benar nggak sih pepatah itu?
‘Tertawa itu menyehatkan.’ Nah ini baru benar.
Tapi kalau ditertawakan? Siapa yang mau? Kecuali pelawak.
Kalau mentertawakan? Semua orang pasti suka ini. Apalagi kalau ujung-ujungnya mencela orang.
Hari ini, saya mengalami hal lucu – tapi bagi saya sama sekali tidak lucu.
Ceritanya begini…
Ketika saya sedang menunggu di depan lobby mal kebanggaan di kota saya – yang notabene dinding maupun pintunya semua terbuat dari kaca tembus pandang yang sangat bening, tiba-tiba tampak seorang pemuda bergegas dan terburu-buru melintas di dekat saya. Karena dia sibuk berkomunikasi lewat ponsel membuatnya tidak awas dengan lingkungan di sekitarnya.
Walhasil, dia menabrak dinding kaca dan menimbulkan suara berdebum!
Kontan orang-orang disekitar terbahak-bahak mentertawakan sang pemuda yang pura-pura tidak acuh dan menghilang keluar entah kemana.
Pada saat itu, saya sama sekali tidak melihat hal itu sebagai peristiwa yang lucu. Sumpah, justeru saya sangat-sangat merasa sakit dan malu seolah saya yang baru saja mengalami peristiwa itu.
Bagaimana rasanya, kalau saja mereka yang mentertawakan itu akan mengalami hal serupa? Bukankah sangat tidak nyaman ketika diri kita ditertawakan, dicela dan dilecehkan?
Bukankah akan lebih indah jika hidup kita diwarnai dengan memberi pujian tulus, pertolongan atau kebaikan kepada orang lain, sehingga membuat orang lain berbahagia?
Saya tidak bermaksud sok mulia atau sok baik. Karena saya ‘merasa’ apa yang mereka ‘rasa’. Saya belajar untuk sebaik-baiknya memperlakukan orang lain, karena saya berharap agar orang lain juga belajar untuk sebaik-baiknya memperlakukan sesamanya atau makhluk lainnya.
So, tertawalah pada tempatnya…
Karena tertawa itu sangat menyehatkan…
‘Tertawa itu menyehatkan.’ Nah ini baru benar.
Tapi kalau ditertawakan? Siapa yang mau? Kecuali pelawak.
Kalau mentertawakan? Semua orang pasti suka ini. Apalagi kalau ujung-ujungnya mencela orang.
Hari ini, saya mengalami hal lucu – tapi bagi saya sama sekali tidak lucu.
Ceritanya begini…
Ketika saya sedang menunggu di depan lobby mal kebanggaan di kota saya – yang notabene dinding maupun pintunya semua terbuat dari kaca tembus pandang yang sangat bening, tiba-tiba tampak seorang pemuda bergegas dan terburu-buru melintas di dekat saya. Karena dia sibuk berkomunikasi lewat ponsel membuatnya tidak awas dengan lingkungan di sekitarnya.
Walhasil, dia menabrak dinding kaca dan menimbulkan suara berdebum!
Kontan orang-orang disekitar terbahak-bahak mentertawakan sang pemuda yang pura-pura tidak acuh dan menghilang keluar entah kemana.
Pada saat itu, saya sama sekali tidak melihat hal itu sebagai peristiwa yang lucu. Sumpah, justeru saya sangat-sangat merasa sakit dan malu seolah saya yang baru saja mengalami peristiwa itu.
Bagaimana rasanya, kalau saja mereka yang mentertawakan itu akan mengalami hal serupa? Bukankah sangat tidak nyaman ketika diri kita ditertawakan, dicela dan dilecehkan?
Bukankah akan lebih indah jika hidup kita diwarnai dengan memberi pujian tulus, pertolongan atau kebaikan kepada orang lain, sehingga membuat orang lain berbahagia?
Saya tidak bermaksud sok mulia atau sok baik. Karena saya ‘merasa’ apa yang mereka ‘rasa’. Saya belajar untuk sebaik-baiknya memperlakukan orang lain, karena saya berharap agar orang lain juga belajar untuk sebaik-baiknya memperlakukan sesamanya atau makhluk lainnya.
So, tertawalah pada tempatnya…
Karena tertawa itu sangat menyehatkan…
Ayo Bercanda...
Seringkali, ketika tanpa kita sadari, kita telah menyakiti hati orang lain. Sederhananya, bahkan hanya lewat sebuah canda.
Ketika kita sudah menjadi sangat akrab dengan teman, seringkali kita melewati ‘batas’ yang seharusnya kita jaga.
Banyak yang mungkin sama sekali tidak mempermasalahkan itu, karena masing-masing sudah tahu betul bahwa semua itu hanya sebatas di bibir saja.
Namun banyak juga yang tanpa diduga justeru menelan canda itu bulat-bulat hingga menelusup ke relung hatinya, hingga ia terluka. Nah, ini yang susah.
Cerita ini bukan semata-mata curahan hati saya, tapi seorang teman yang baru saja berbagi rasa pada saya.
BENAR BANGET apa yang dia pikirkan itu.
Karena kita kan tidak bisa menebak-nebak isi hati atau suasana hati orang lain.
Bisa saja, ketika kita bercanda sedikit keterlaluan kemarin, si teman sama sekali tidak menggubrisnya. Bahkan mungkin, si teman yang tertawa paling keras.
Ehh ketika hari ini kita hanya mencela bentuk alisnya, warna lipstiknya atau model pakaiannya, si teman malah cemberut seharian dan tak mau bicara. Nah lho??
Tapi, semoga kita masing-masing bisa belajar dari peristiwa seperti ini.
Pertama, yah mungkin kita cukup bercanda ala kadarnya…
Kedua, sebagai teman mbok yah jangan terlalu sensi…
Anggap saja semua itu benar-benar hanya bercanda.
Yah kalau seandainya tak mampu dibendung, terlanjur tersinggung, ya sudahhh besok dilupakan saja…
Ketika kita sudah menjadi sangat akrab dengan teman, seringkali kita melewati ‘batas’ yang seharusnya kita jaga.
Banyak yang mungkin sama sekali tidak mempermasalahkan itu, karena masing-masing sudah tahu betul bahwa semua itu hanya sebatas di bibir saja.
Namun banyak juga yang tanpa diduga justeru menelan canda itu bulat-bulat hingga menelusup ke relung hatinya, hingga ia terluka. Nah, ini yang susah.
Cerita ini bukan semata-mata curahan hati saya, tapi seorang teman yang baru saja berbagi rasa pada saya.
BENAR BANGET apa yang dia pikirkan itu.
Karena kita kan tidak bisa menebak-nebak isi hati atau suasana hati orang lain.
Bisa saja, ketika kita bercanda sedikit keterlaluan kemarin, si teman sama sekali tidak menggubrisnya. Bahkan mungkin, si teman yang tertawa paling keras.
Ehh ketika hari ini kita hanya mencela bentuk alisnya, warna lipstiknya atau model pakaiannya, si teman malah cemberut seharian dan tak mau bicara. Nah lho??
Tapi, semoga kita masing-masing bisa belajar dari peristiwa seperti ini.
Pertama, yah mungkin kita cukup bercanda ala kadarnya…
Kedua, sebagai teman mbok yah jangan terlalu sensi…
Anggap saja semua itu benar-benar hanya bercanda.
Yah kalau seandainya tak mampu dibendung, terlanjur tersinggung, ya sudahhh besok dilupakan saja…
Minggu, 10 Mei 2009
Pilihan...
Setiap manusia ditakdirkan untuk memilih
Apakah ingin menjadi seseorang yang baik atau buruk.
Dunia ini penuh dengan pilihan
Ada hitam dan putih, benar dan salah, ya atau tidak...
Ketika pilihan diliputi ragu, alam seakan berwarna abu-abu
Bibir berkata 'ya', namun hati menjerit 'tidak'.
Ketika harus memilih,
Apakah hidup biasa saja, namun dengan seseorang yang dicinta
Atau hidup berlimpah harta, namun tak sungguh-sungguh mencinta
Pilihan yang rumit...
Bagi sebagian orang, cinta di atas segalanya.
Meskipun harus berusaha, saling mendukung, senantiasa memberi,
tak harus meminta, pasti rejeki tak akan kemana.
Namun sebagian lagi berpikir berbeda.
Untuk apa bersusah payah kalau toh ada 'seseorang' yang siap
menanggung semuanya.
Tapi saya yakin, mereka juga sama-sama 'berusaha' kok untuk
mewujudkan keinginannya, meskipun dengan cara yang berbeda.
Tapi yah...
Semua itu terserah mereka
Karena toh, Tuhan telah memberi kita bekal, yaitu A K A L .
Semoga mereka menemukan kebahagiannya
Dan kita juga senantiasa dilimpahi berkah dan hidayah dari-Nya.
Apakah ingin menjadi seseorang yang baik atau buruk.
Dunia ini penuh dengan pilihan
Ada hitam dan putih, benar dan salah, ya atau tidak...
Ketika pilihan diliputi ragu, alam seakan berwarna abu-abu
Bibir berkata 'ya', namun hati menjerit 'tidak'.
Ketika harus memilih,
Apakah hidup biasa saja, namun dengan seseorang yang dicinta
Atau hidup berlimpah harta, namun tak sungguh-sungguh mencinta
Pilihan yang rumit...
Bagi sebagian orang, cinta di atas segalanya.
Meskipun harus berusaha, saling mendukung, senantiasa memberi,
tak harus meminta, pasti rejeki tak akan kemana.
Namun sebagian lagi berpikir berbeda.
Untuk apa bersusah payah kalau toh ada 'seseorang' yang siap
menanggung semuanya.
Tapi saya yakin, mereka juga sama-sama 'berusaha' kok untuk
mewujudkan keinginannya, meskipun dengan cara yang berbeda.
Tapi yah...
Semua itu terserah mereka
Karena toh, Tuhan telah memberi kita bekal, yaitu A K A L .
Semoga mereka menemukan kebahagiannya
Dan kita juga senantiasa dilimpahi berkah dan hidayah dari-Nya.
Selasa, 05 Mei 2009
Penampilan + Shopping = Investasi ??
Lirik kanan...
Wahh tas nya bagus !!
Lirik kiri...
Woww sepatunya kerenn bangeett !!
Lihat kanan lagi...
Gilee jam tangannya match banget sama baju guee !!
Lihat kiri lagi...
Ya ampuuunnn tuh baju imut bangeett !!
Urrgghh...
Pokoke ngga bakal tahan deh kalau lagi hunting di mall
Ada aja yang bakal menyita perhatian
Bahkan sampai 'kepikiran' semaleman.
Ujung-ujungnya besok dibela-belain deh balik lagi
untuk beli, beli dan beli !
Puassss !!!
Tapi setelah itu pusingggg tujuh keliling
Limit kartu kredit kandas
Saldo di rekening berkurang
Gaji satu bulan melayang
Hiks...
Mungkin itu harga yang memang harus dibayar untuk sebuah penampilan
Secara sebuah majalah panutan wanita pekerja
berkata 'Penampilan adalah investasi'
Benar atau tidak
Tergantung dari bagaimana kita menyikapinya
Wahh tas nya bagus !!
Lirik kiri...
Woww sepatunya kerenn bangeett !!
Lihat kanan lagi...
Gilee jam tangannya match banget sama baju guee !!
Lihat kiri lagi...
Ya ampuuunnn tuh baju imut bangeett !!
Urrgghh...
Pokoke ngga bakal tahan deh kalau lagi hunting di mall
Ada aja yang bakal menyita perhatian
Bahkan sampai 'kepikiran' semaleman.
Ujung-ujungnya besok dibela-belain deh balik lagi
untuk beli, beli dan beli !
Puassss !!!
Tapi setelah itu pusingggg tujuh keliling
Limit kartu kredit kandas
Saldo di rekening berkurang
Gaji satu bulan melayang
Hiks...
Mungkin itu harga yang memang harus dibayar untuk sebuah penampilan
Secara sebuah majalah panutan wanita pekerja
berkata 'Penampilan adalah investasi'
Benar atau tidak
Tergantung dari bagaimana kita menyikapinya
Senin, 04 Mei 2009
What The Friends Are For ?
Seorang sahabat baik tiba-tiba menghubungi saya dan menceritakan masalahnya. Sungguh, saya ikut bersedih karenanya. Dia adalah sahabat baik yang tidak akan pernah saya lupakan. Seandainya setiap saat saya bisa selalu ada disisinya. Menghiburnya ketika dia berduka dan membuatnya kembali tertawa.
Saat ini dia sedang hamil muda. Sungguh, saya ingin mendampinginya dan membuatnya tertawa seperti ketika masa sekolah.
Dia berkata, “Seandainya waktu bisa diputar ulang, aku ingin kembali ke masa lalu…” Saya tidak mampu berkata apapun, kecuali mengingatkannya untuk ‘berserah diri’ kepada Allah. Hanya kepadanya kita kembali. Dan hanya Dia-lah yang Maha Mengerti dan Mengetahui Isi Hati.
Karena keterbatasan waktu, saya sangat sangat jarang menemuinya, bahkan menghubunginya. Hanya dia yang senantiasa menghubungi saya. Sungguh, saya sangat menyesal. Saya sangat mencintai sahabat-sahabat saya, seperti saya mencintai keluarga saya. Saya tidak ingin melihatnya bersusah hati. Sungguh, saya tidak ingin sekali lagi kehilangan seorang sahabat. Mereka adalah segalanya bagi saya.
Saya berjanji bahwa saya akan datang begitu saya punya waktu luang. Saya memang tidak bisa memberinya apa-apa. Tapi bagi saya, bisa mendengar segala keluh-kesahnya sudah cukup membuat saya bahagia, mampu menjadi teman terbaiknya sekalipun ketika dia sedang berduka.
Din, Lin, Chris, Ta…
I Love You All.
Saat ini dia sedang hamil muda. Sungguh, saya ingin mendampinginya dan membuatnya tertawa seperti ketika masa sekolah.
Dia berkata, “Seandainya waktu bisa diputar ulang, aku ingin kembali ke masa lalu…” Saya tidak mampu berkata apapun, kecuali mengingatkannya untuk ‘berserah diri’ kepada Allah. Hanya kepadanya kita kembali. Dan hanya Dia-lah yang Maha Mengerti dan Mengetahui Isi Hati.
Karena keterbatasan waktu, saya sangat sangat jarang menemuinya, bahkan menghubunginya. Hanya dia yang senantiasa menghubungi saya. Sungguh, saya sangat menyesal. Saya sangat mencintai sahabat-sahabat saya, seperti saya mencintai keluarga saya. Saya tidak ingin melihatnya bersusah hati. Sungguh, saya tidak ingin sekali lagi kehilangan seorang sahabat. Mereka adalah segalanya bagi saya.
Saya berjanji bahwa saya akan datang begitu saya punya waktu luang. Saya memang tidak bisa memberinya apa-apa. Tapi bagi saya, bisa mendengar segala keluh-kesahnya sudah cukup membuat saya bahagia, mampu menjadi teman terbaiknya sekalipun ketika dia sedang berduka.
Din, Lin, Chris, Ta…
I Love You All.
What The Friends Are For ?
Ketika kamu punya kesempatan untuk memiliki seorang teman, jagalah mereka.
Ketika kamu punya kesempatan untuk membuat mereka tertawa, maka lakukanlah.
Dan ketika kamu punya kesempatan untuk mendengar keluh-kesahnya, dekatilah dan buatlah dia mampu menepis kesedihannya, hingga dia sanggup melupakannya.
Seketika saya teringat seorang sahabat yang kini entah berada dimana.
Saya mengingatnya bukan ketika masa-masa kami tertawa.
Tapi saya mengenangnya justeru ketika dia bersandar di pelukan saya saat dia baru saja kehilangan kekasihnya, seseorang yang sangat dicintainya.
Saya terkenang, saat hari masih gelap, dingin pun masih menusuk tulang, dia datang bersama duka, berurai air mata, dan tak sanggup berkata apa-apa.
Saya menunggunya hingga mentari muncul di ufuk, pagi mulai terang dan kami masih terpekur di depan pagar, ketika dia mulai sanggup bicara.
“Andang meninggal, kak. Dia meninggal…”
Saya tergugu. Melintas bayangan seorang pemuda yang selama ini ‘dekat’ dengannya.
Dia kembali tersedu, wajahnya kembali jatuh di bahu.
Saat itu, saya seperti berada di labirin mana, gelap gulita.
Saya tak bisa berkata apa-apa hingga saya mengantarnya pulang ke rumah. Saya hanya membelai kepalanya, dan bilang, “Kamu kan masih punya saya…”.
Ketika kamu punya kesempatan untuk membuat mereka tertawa, maka lakukanlah.
Dan ketika kamu punya kesempatan untuk mendengar keluh-kesahnya, dekatilah dan buatlah dia mampu menepis kesedihannya, hingga dia sanggup melupakannya.
Seketika saya teringat seorang sahabat yang kini entah berada dimana.
Saya mengingatnya bukan ketika masa-masa kami tertawa.
Tapi saya mengenangnya justeru ketika dia bersandar di pelukan saya saat dia baru saja kehilangan kekasihnya, seseorang yang sangat dicintainya.
Saya terkenang, saat hari masih gelap, dingin pun masih menusuk tulang, dia datang bersama duka, berurai air mata, dan tak sanggup berkata apa-apa.
Saya menunggunya hingga mentari muncul di ufuk, pagi mulai terang dan kami masih terpekur di depan pagar, ketika dia mulai sanggup bicara.
“Andang meninggal, kak. Dia meninggal…”
Saya tergugu. Melintas bayangan seorang pemuda yang selama ini ‘dekat’ dengannya.
Dia kembali tersedu, wajahnya kembali jatuh di bahu.
Saat itu, saya seperti berada di labirin mana, gelap gulita.
Saya tak bisa berkata apa-apa hingga saya mengantarnya pulang ke rumah. Saya hanya membelai kepalanya, dan bilang, “Kamu kan masih punya saya…”.
Langganan:
Postingan (Atom)

